Mendagri Minta Pemerintah Aceh Lebih Kreatif Tanggulangi Pandemi COVID-19

  • Whatsapp
Mendagri Tito Karnavian menyampaikan sambutan pada pelantikan Gubernur Aceh, Kamis (5/11/2020)
Mendagri Tito Karnavian menyampaikan sambutan pada pelantikan Gubernur Aceh, Kamis (5/11/2020)

Kutarajapost.id – Banda Aceh, Untuk memicu pembangunan daerah khususnya Aceh dimasa pandemi ini Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menuntut agar Pemerintah Aceh lebih kreatif serta mampu membaca peluang di tengah pandemi COVID-19. Hal ini disampaikan Tito Karnavian dalam sambutannya usai melantik Nova Iriansyah sebagai Gubernur Aceh definitif pada paripurna DPRA di Banda Aceh, Kamis.

“Pemerintah dan semua pihak harus pandai membaca peluang dengan terobosan kreatif dan inovatif di tengah tantangan situasi sulit pandemi COVID-19, sehingga memicu percepatan pembangunan dengan segenap sumber daya,” kata Tito Karnavian.

Bacaan Lainnya

Lebih lanjut Tito mengatakan, semua masyarakat Aceh menghadapi bencana global pandemi COVID-19 yang merupakan multidimensi berdampak pada bidang kesehatan, kemanusiaan, ekonomi dan sosial. Penyebaran penyakit COVID-19 juga terjadi di Aceh, bahkan sudah ada saudara-saudara kita yang telah wafat karena penyakit tersebut.

“Sektor ekonomi juga terkontraksi yang berakibat pada masalah sosial seperti kehilangan atau berkurangnya lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Tito menyampaikan, pemerintah dan masyarakat perlu bersama-sama mewujudkan rumusan keseimbangan guna mengendalikan penularan dan sekaligus menjaga ekonomi tetap bergerak.

“Untuk itulah pada kesempatan baik ini pelantikan Gubernur definitif dapat menjadi momentum yang penting agar kebersamaan tersebut dapat terwujud. Kita semua harus optimis menghadapi pandemi COVID-19 dan dampak ikutannya,” kata Tito.

Tito menegaskan, Pemerintah pusat tidak berdiam diri, berbagai program baik fisik maupun non fisik terus dilaksanakan guna mengatasi pandemi COVID-19 dan mendorong percepatan pembangunan.

Dibalik musibah pandemi COVID-19 ini, lanjut Tito, Allah SWT tentu memiliki maksud dengan hikmah tersendiri, salah satunya untuk meningkatkan solidaritas dan kebersamaan semua pihak, baik Pemerintah maupun masyarakat Aceh untuk mampu menghadapi cobaan serta menanganinya secara optimal.

“Pembangunan Aceh tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, namun memerlukan kekompakan antara pemerintah pusat dan daerah serta segenap unsur yang ada di Aceh baik di tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten/kota sampai ke desa-desa,” demikian ujar Tito.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *